Model Pergerakan Mahasiswa Pasca Reformasi

Andika Arnoldy*

 

Kekhawatiran akan pergerakan mahasiswa yang makin lama – makin vakum bukanlah hal yang baru. Pergerakan mahasiswa yang vakum ini sudah dirasakan sejak lama, bahkan setelah perjuangan reformasi tahun 1998 lalu..

Gerakan monumental adalah hal yang paling utama bagi gerakan mahasiswa. Dalam rangka membangun pola gerakan maka bagi mahasiswa tidak ada hal yang penting kecuali moment. Mahasiswa dengan segala kelemahannya, tidak bisa di andalkan untuk aktif terlibat akan masalah kebangsaan.

Kalaulah kita melihat kembali apa yang terjadi di tahun `98 lalu. Gerakan mahasiswa bergerak dan berhasil menumbangankan orde baru adalah salah satu gerakan monumental saja. sama halnya gerakan – gerakan mahasiswa pada tahun 1966 atau yang lainnya.

Sebagai gerakan yang eksis, mahasiswapun menyatakan bahwa gerakan reformasi akan mengantarkan gerakan ini menjadi gerakan yang peduli pada rakyat baik dari segi politik atau pun sosial budaya. Hal inilah menjadi trend bagi gerakan mahasiswa. Pola gerakan semacam ini terus saja di gulirkan.

Pertanyaan yang sinis pernah muncul dari publik. Mempertanyakan akan kefektifitasan gerakan mahasiswa ini. Gerakan demontrasi yang menjadi senjata ampuh bagi mahasiswa ternyata makin lama makin mengusik ketenangan publik, mosi akan kepercayaan terhadap gerakan tersebut selalu di tanggapi dengan negatif dengan alasan politik praktis dan lain sebagainya.

Memang di lapangan publik melihat gerakan mahasiswa yang peduli pada rakyat dan bangsa. Banyak juga hal yang telah di lakukan oleh mahasiswa dalam rangka memujudkan kesejahteraan rakyat. Namun publik tidak puas karena gerakan mahasiswa hanyalah sebatas oral bukan tindakan.

Tidak ada yang boleh menyalahkan publik. Yang publik ketahui hanyalah segera wujudkan kesejahteraan, apapun caranya !. Sebagai gerakan maka mahasiswa yang menjadi aspirasi tidak bisa berbuat karena gerakan mahasiswa berada di luar sistem.

 

 

 

Sosial control

Gerakan mahasiswa sebagai gerakan sosial control. Melalui gerakan ini mahasiswa dapat mengontrol semua kebijakan baik yang berpihak atau tidak pada rakyat. Jika saja kebijakan itu tidak sesuai maka mahasiswa akan menggunakan pola gerakan seperti ini.

Efektifitas gerakan ini masih cukup rinskan, karena ada beberapa hal kebijakan yang tidak dapat di kontrol langsung oleh mahasiswa. Seperti peraturan perundang-undangan dan kenaikan harga secara global. Gerakan sosial kontrol hanya bisa di gunakan untuk propaganda saja, bukan untuk melahirkan kebijakan baru.  

Saatnya bekerja

            Harapan – harapan akan gerakan mahasiswa selalu di kumandangkan. Gerakan independentnya pun selalu menjadi sorotan publik dan hasrat untuk memujudkan kesejahteraan selalu menjadi eufora bagi mahasiswa. Tapi manalah mungkin kalau hanya mengandalkan gerakan demontrasi atau gerakan oral dengan argumentatif saja.

            Saatnya bekerja !. Bangun gerakan revolusi mahasiswa dengan cara langsung turun pada masalah sambil mengontrol kebijakan pemerintah. Kesejahteraan bisa di wujudkan oleh gerakan mahasiswa kalau saja langsung menjurus ke titik permasalahan.

            Subyek permasalahan dan objek permasalahan adalah titiknya, maka temukan dan tindak lanjuti.

Maka model gerakan mahasiswa pasca reformasi adalah Gerakan kembali ke masyarakat (back to people`s move).              Dengarkan kebutuhan rakyat dan segera bangun gerakan. Salah satu metodenya adalah gerakan praktek sosial dalam artian memehuni kebutuhan masyarakat secara langsung bukan saja sebagai penyalur aspirasi.

 

*KETUA ADVOKASI

KAMMI DAERAH JAMBI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.